Menurut Ahli Analis Saat Ini Harga Saham Bukalapak Termasuk Mahal

Menurut Ahli Analis Saat Ini Harga Saham Bukalapak Termasuk Mahal

Pengamat pasar modal sekaligus Analis MNC Asset Management, Edwin Sebayang menilai harga saham Bukalapak yang di jual sepanjang periode bookbuilding ini terlalu mahal.

Di lansir dari laman residencedaercole.com, PT Bukalapak.com Tbk alias BUKA di ketahui menjual sahamnya per lembar di kisaran Rp750-Rp850.

“Untuk harga sekarang 750-850 terlalu mahal, saya sebagai analis dan di aset manajemen melihatnya itu mahal banget, buat kami investor di institusi itu nggak make sense,” ujar Edwin saat di hubungi, pada hari Rabu kemarin.

Di kutip dari laman idn poker, lanjut Edwin, padahal dengan valuasi perusahaan yang antara Rp6 triliun hingga Rp7 triliun harga saham BUKA yang wajar adalah antara Rp67-Rp70 per lembarnya.

1. Investor tetap boleh membeli saham BUKA

Kendati demikian, Edwin tidak melarang investor, terutama investor ritel untuk membeli saham BUKA.

Namun, Edwin tidak menyarankan jika investor membeli saham BUKA dengan tujuan investasi jangka panjang.

“Kalau untuk ambil sesaat kenapa tidak? Saya sih nggak menyarankan untuk masuk ke saham tersebut dalam jangka panjang, tetapi buat (investor) ritel kan yang penting untung cepat. Sudah untung, ya tinggal dan cari saham lain yang menarik, yang ada gerakan-gerakannya,” ucap dia.

2. Alasan saham Bukalapak tidak cocok untuk investasi jangka panjang

Edwin sesudah itu memberikan alasan mengapa saham Bukalapak tidak sesuai di jadikan investasi jangka panjang bagi investor.

Menurut dia, Bukalapak berpotensi tidak membagikan dividen mengingat tetap menjamin kerugian triliunan rupiah.

“Mereka (investor) nggak akan menyimpan saham BUKA lama-lama karena ke depannya Bukalapak juga nggak akan bagi-bagi dividen karena masih rugi,” kata Edwin.

Edwin pun sangsi kecuali Bukalapak sanggup menangani kerugiannya dalam setahun ini mengingat pandemik COVID-19 tetap memadai gawat berlangsung di Indonesia.

3. Bukalapak masih merugi lebih dari Rp1 triliun

Berdasarkan laporan keuangannya, Bukalapak tetap mencatat kerugian senilai Rp1,3 triliun terhadap tahun lalu. Namun, angka tersebut jauh lebih kecil kecuali di bandingkan kerugian yang mereka alami terhadap 2019 sebesar Rp2,8 triliun dan Rp2,2 triliun terhadap 2018.

Bukalapak terhitung tetap menanggung beban lumayan berat yaitu Rp1,4 triliun yang di gunakan untuk urusan lazim dan administrasi. Sementara, beban pokok penghasilan Bukalapak tercatat sebesar Rp123 miliar dan beban lainnya sekitar Rp48 miliar.

Beban-beban tersebut mengakibatkan Bukalapak mengalami rugi usaha hingga Rp1,8 triliun.